UNTUK CLOSE : KLIK 1 LINK ASAL DI BAWAH UNTUK MENUTUP INI

Minggu, 28 Oktober 2012

Melihat Ke Arah Kanan = Berbohong, Benarkah?


Ada masa di mana seseorang terpaksa berkata tidak benar untuk menutupi sesuatu hal, terlepas alasan yang dikemukakan adalah untuk kebaikan atau bukan. Bagi sebagian orang yang memiliki kemampuan untuk menipu mungkin berbohong merupakan hal yang mudah, tapi ternyata ada beberapa cara untuk mengetahui apakah seseorang sedang berkata benar atau bohong.

Ciri fisik yang terlihat dan mudah untuk ditebak adalah ketika orang tersebut banyak menggerakkan tangan, misalnya memegang hidung atau menggosok-gosok telapak tangan. Wajahnya terlihat kaku, nada suara yang berubah meninggi atau terkesan monoton atau dia terlihat lega ketika kita mengubah topik pembicaraan. Tidak hanya itu, masih ada lagi ciri fisik yang bisa membantu untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak, yaitu dengan memperhatikan arah gerak matanya.

Seperti dilansir oleh sebuah kebijakan konvensional bahwa ketika orang berbicara, maka arah gerakan mata mengungkapkan apakah orang itu berbohong atau tidak. Konon, pandangan sekilas seseorang ke arah kiri atas menandakan bahwa seseorang berkata jujur, sedangkan yang menuju ke arah kanan atas menandakan bahwa orang tersebut sedang berbohong. Namun, menurut penelitian terbaru teori tersebut tidak sepenuhnya bisa digunakan, karena ternyata kita tidak dapat mengetahui kebohongan yang tidak terlihat.

Peneliti di United Kingdom menyelidiki dugaan korelasi antara arah mata dengan berbohong. Gagasan ini berakar pada teori tahun 1970-an yang disebut dengan Neuro-Linguistic Programming (NLP) sebuah metode untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dengan pendekatan psikologis. Menurut teori ini, ketika seseorang yang bukan kidal melirik ke arah kanan atas, maka kemungkinan dia akan memvisualisasikan peristiwa yang dibangun dengan cara membayangkannya. Sementara jika dia melirik ke arah kiri atas, maka kemungkinan besar dia akan memvisualisasikan sebuah ingatan dari dalam otaknya. Untuk alasan inilah jika seorang pembohong membangun sebuah kebenaran menurut versinya, arah matanya akan cenderung melirik ke arah kanan.

Pada sebuah eksperimen, para ilmuwan meneliti dua kelompok responden dan merekam arah gerak mata kelompok pertama, terlepas apakah mereka berkata benar atau bohong. Kelompok kedua diminta untuk melihat hal itu dan mencoba mendeteksi kebohongan dengan mengamati gerakan mata kelompok pertama. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara bebohong dengan gerakan mata, ini diungkapkan oleh seorang psikolog dari Hertfordshire University Prof. Richard Wiseman. Seorang peneliti dari Edinburgh University Caroline Watt juga menyatakan bahwa teori gerakan mata yang berkaitan dengan kebohongan sudah tidak relevan.

Meski demikian, ada juga yang beranggapan bahwa arah gerak mata bisa digunakan untuk mengetahui seseorang berkata bohong atau tidak, hal ini dikaitkan dengan kinerja otak. Otak manusia terbagi pada dua bagian, yakni otak kiri dan otak kanan yang keduanya memiliki kemampuan berbeda. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, seperti logika, angka, kemampuan berbicara, mengolah tata bahasa, analisis, peristiwa, nama, waktu, dan lain-lain. Daya ingat untuk otak kiri bersifat jangka pendek. Sementara otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, seperti khayalan, kreativitas, emosi, imajinasi, artistik, perasaan, gaya bahasa, irama musik, warna dan lain-lain.

Daya ingat otak kanan bersifat jangka panjang. Jadi, jika gerak mata tertuju ke arah kiri, maka pertanda sedang mengingat dan mencari penjelasan sesuai dengan logika dan lebih terkait dengan penggunaan memori dalam otak, dengan kata lain dia sedang mengingat atau menyatakan fakta. Sedangkan jika gerak mata tertuju ke kanan, maka pertanda sedang menggunakan fungsi otak kanan yang berhubungan dengan imajinasi atau kreativitas, hal ini bisa disesuaikan dengan pertanyaan yang dilontarkan. Jika pertanyaannya bersifat memecahkan persoalan atau menggambarkan sesuatu, berarti dia sedang berproses kreatif. Namun, jika pertanyaannya berhubungan dengan sebuah kesaksian, maka tidak menutup kemungkinan jawaban yang dilontarkan adalah hasil mengarang.

Ada kaitannya atau tidak mengenai arah gerak mata ke arah kanan dengan kebohongan, tergantung pribadi masing-masing yang menilai. Namun, apapun alasannya berbohong tetap tidak dibenarkan karena kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru karena dengan satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya. Bagaimana komentarmu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar